Langit pekat.
Seekor ulat merambat lambat mencari selamat di bibir jendela.
Di luar… hujan tengah semangat-semangatnya menantang bumi,
mengutuk langit.
Aku berdiam dalam sakit.
Enam bulan lalu, pria yang kucinta enggan mendekat padaku.
Sepulang kantor yang dilakukannya selalu bergumul dengan pekerjaan-pekerjaannya yang seolah tak pernah ada habisnya.
Sedang aku merindukannya, merindukan sentuhannya…
Namun beberapa malam terakhir berbeda.
Ia berubah.
Pria yang kucinta seakan telah kembali pada masa dimana ia
masih berusaha keras memperkenalkan dirinya padaku,
mendekatiku, mengenalku lebih jauh, lalu berhasil meyakinkanku
bahwa aku telah jatuh hati padanya, pada pelukannya.
Bapak ibu pernah mengingatkan, menikah muda bukanlah hal
mudah.
Kami masih sama-sama labil.
Tapi dalihku waktu itu, mempercepat toh tak ada ruginya,
sebagaimana menunda yang tak ada untungnya, kalau sejak awal
aku tahu bahwa dialah pria pilihanku.
Lalu menikahlah kami.
Dan kuberanikan diri menyusun mimpi.
Menikah, memiliki rumah, dikaruniai putra dan atau putri yang cerdas, mendewasakan mereka, dan seterusnya-dan
selanjutnya.
Masih tahun pertama.
Dan segala perbedaan, penyesuaian, serta toleransi yang kami hadapi terlewati sudah.
Memasuki tahun kedua, ia tetaplah pria yang kucinta.
Hingga jelang tahun ketiga, ia berubah.
Aku tak lagi mengenalinya.
Sampai pada beberapa malam terakhir.
Aku kembali mendapatinya yang dulu pernah mendekatiku dan
mengaku jatuh hati padaku.
Mustinya aku merasa bahagia, betul?
Karena pria yang kucinta telah kembali padaku?
Langit pekat.
Seekor ulat merambat lambat mencari selamat di bibir jendela.
Di luar… hujan sudah tak lagi semangat mengutuk langit dan
menantang bumi.
Tinggal aku, yang tak lagi berdiam dalam sakit.
Kata suamiku baru saja, "Ada wanita lain yang kucinta, tapi
rasaku padamu tak berubah…"
Dan anehnya, aku percaya…
Sumbernya di sini
Tirai Maya 02 Mar, 2012
